Selamat Datang di PT Pertamina Bina Medika

Telepon : (021) 7219031 / (021) 7219299
   Email : info@pertamedika.co.id

EFEK ROKOK TERHADAP KESEHATAN GIGI DAN GUSI

09 April 2019

Rokok merupakan benda yang sudah tak asing lagi bagi kita. Merokok sudah menjadi kebiasaan yang sangat umum dan meluas di masyarakat Indonesia. Bahaya merokok terhadap kesehatan tubuh telah diteliti dan dibuktikan banyak orang. Efek-efek yang merugikan akibat merokok pun sudah diketahui dengan jelas. Banyak penelitian membuktikan kebiasaan merokok meningkatkan risiko timbulnya berbagai penyakit seperti penyakit jantung dan gangguan pembuluh darah, kanker paru-paru, kanker rongga mulut, kanker laring, kanker esofagus, bronkhitis, tekanan darah tinggi, impotensi serta gangguan kehamilan dan cacat pada janin.

Efek Rokok terhadap kesehatan mulut tidak banyak diketahui oleh masyarakat. Padahal mulut adalah bagian tubuh pertama yang mendapatkan dampak terhadap Rokok, Organ mulut yang terpengaruh terhadap efek Rokok meliputi Bibir, Gusi, Kelenjar Saliva/Ludah, Gigi dan Jaringan Penyangga Gigi lainnya.

Rongga mulut sangat mudah terpapar efek yang merugikan akibat merokok. Terjadinya perubahan dalam rongga mulut sangat masuk di akal karena mulut merupakan awal terjadinya penyerapan zat-zat hasil pembakaran rokok. Temperatur rokok pada bibir adalah 30 oC, sedangkan ujung rokok yang terbakar bersuhu 900 oC. Asap panas yang berhembus terus menerus ke dalam rongga mulut merupakan rangsangan panas yang menyebabkan perubahan aliran darah dan mengurangi pengeluaran ludah. Akibatnya rongga mulut menjadi kering dan lebih an-aerob (suasana bebas udara) sehingga memberikan lingkungan yang sesuai untuk tumbuhnya bakteri an-aerob dalam plak. Dengan sendirinya perokok berisiko lebih besar terinfeksi bakteri penyebab penyakit jaringan pendukung gigi dibandingkan mereka yang bukan perokok.

Pengaruh asap rokok secara langsung adalah iritasi terhadap gusi. Gusi seorang perokok juga cenderung mengalami penebalan lapisan tanduk. Daerah yang mengalami penebalan ini terlihat lebih kasar dibandingkan jaringan di sekitarnya dan berkurang kekenyalannya.

Pengaruh asap rokok secara tidak langsung terhadap gusi adalah zat-zat di dalam rokok seperti nikotin yang masuk melalui aliran darah dan ludah. Nikotin menyebabkan penyempitan pembuluh darah yang berakibat berkurangnya aliran darah di gusi sehingga meningkatkan kecenderungan timbulnya penyakit gusi. Jaringan pendukung gigi yang sehat seperti gusi, serat periodontal gigi, semen gigi dan tulang tempat tertanamnya gigi menjadi rusak karena terganggunya fungsi normal mekanisme pertahanan tubuh terhadap infeksi.

Pada perokok terdapat penurunan zat kekebalan tubuh (antibodi) yang terdapat di dalam ludah yang berguna untuk menetralisir bakteri dalam rongga mulut dan terjadi gangguan fungsi sel-sel pertahanan tubuh. Sel pertahanan tubuh menurun mobilitasnya sehingga tidak dapat mendekati dan melawan bakteri-bakteri penyerang tubuh.

Tar dalam asap rokok juga memperbesar peluang terjadinya radang gusi. Tar dapat mengendap pada permukaan gigi dan akar gigi sehingga permukaan ini menjadi kasar dan mempermudah perlekatan plak. Dari beberapa penelitian yang telah dilakukan, plak dan karang gigi lebih banyak terbentuk pada rongga mulut perokok dibandingkan bukan perokok. Penyakit jaringan pendukung gigi yang parah, kerusakan tulang penyokong gigi dan tanggalnya gigi lebih banyak terjadi pada perokok daripada bukan perkok. Pada perawatan penyakit jaringan pendukung gigi, pasien perokok memerlukan perawatan yang lebih luas dan lebih lanjut. Padahal pada pasien bukan perokok dan pada keadaan yang sama cukup hanya dilakukan perawatan standar seperti pembersihan plak dan karang gigi.

Nikotin berperan dalam memulai terjadinya penyakit jaringan pendukung gigi karena nikotin dapat diserap oleh jaringan lunak rongga mulut termasuk gusi melalui aliran darah dan perlekatan gusi pada permukaan gigi dan akar. Nikotin dapat ditemukan pada permukaan akar gigi dan hasil metabolitnya yakni kontinin dapat ditemukan pada cairan gusi. Nikotin menghambat perlekatan jaringan ikat dan serat-serat kolagen, sehingga proses penyembuhan dan regenerasi jaringan menjadi terganggu.

Rokok secara tidak langsung mempengaruhi kerusakan gigi. Efek rokok yang menyebabkan mulut kering berpengaruh terhadap pertahanan gigi terhadap bakteri perusak gigi. Saliva/Ludah berfungsi membilas permukaan mulut dan membantu membersihkan permukaan gigi. Dengan berkurangnya aliran saliva ditambah dengan kebiasaan buruk tidak teratur menggosok gigi menyebabkan gigi beresiko lebih besar mengalami karies/lubang gigi.

Rokok juga mempercepat timbulnya karang gigi karena permukaan gigi menjadi kasar dan memudahkan kotoran menempel pada permukaan gigi. Karang gigi yang terbentuk, menumpuk dan tidak dihilangkan dalam jangka waktu yang lama akan menyebabkan penurunan gusi dan kerusakan jaringan penyangga gigi. Kerusakan jaringan penyangga gigi berakibat langsung terhadap kegoyangan gigi. Apabila hal ini terus dibiarkan, resiko gigi tanggal/lepas semakin besar.

Keparahan penyakit yang timbul di rongga mulut akibat dari Rokok terbagi menjadi tingkat sedang hingga lanjut, tergantung dengan banyaknya rokok yang diisap setiap hari, berapa lama atau berapa tahun seseorang menjadi perokok dan status merokok itu sendiri, apakah masih merokok hingga sekarang atau sudah berhenti.

Disusun oleh :

Drg. Budi Karmawan, MARS

RS PERTAMINA DUMAI